Search

Content

Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
0 komentar

Buruknya Tingkat Kesehatan Anak dan Ibu di Somalia



Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (16)
Maut Menari di Atas Tanah Pengungsian
Bencana kelaparan hampir sama mengkhawatirkannya dengan ancaman kesehatan yang kini menjadi momok mematikan bagi pengungsi Somalia. Ratusan ribu pengungsi Somalia yang bertahan hidup di kamp pengungsian mulai terserang diare, malaria dan kolera. Ketiga jenis penyakit ini mendominasi kondisi kesehatan pengungsi yang sudah berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun berada dilokasi pengungsian dengan kondisi kumuh.

Rendahnya tingkat kesehatan ini diperparah oleh minimnya sarana sanitasi MCK di pengungsian. Meskipun terlihat ada sejumlah MCK dibangun di sejumlah titik tetapi sangat tidak memadai. MCK itu berdinding seng ukuran besar 1 meter. Tetapi keberadaannya tetap tidak merubah keadaan karena tidak adanya air yang cukup untuk mencuci tangan dan cebok. Dibanding mencuci tangan, air yang ada lebih dipilih untuk persediaan minum yang sangat pelik di dapat.

Mohamed, salah seorang pengungsi di kawasan Daadab Somalia menceritakan, untuk mendapatkan air tidak jarang mereka harus berjalan berpuluh kilometer menuju tempat penampungan air yang disediakan. Umumnya mereka yang mencari air adalah kalangan perempuan, baik berjalan kaki ataupun membawa keledai dengan jerigen digantungkan di hewan  tersebut.  Hal ini dibuktikan sendiri oleh tim selama melintasi safana Afrika itu dengan menemui sejumlah wanita berjalan kaki sangat jauh untuk mendapatkan air untuk keperluan minum.

Persoalan rentannya kesehatan para pengungsi ini tercermin dalam aksi kesehatan yang dilakukan relawan PKPU bersama lembaga lainnya di Kamp Dahgaley Daadab yang hampir rata-rata pengungsi menderita malaria, diare dan kolera. Lebih mengkhawatirkan lagi untuk kalangan anak-anak yang kurang mendapatkan perawatan kesehatan dan asupan gizi cukup. Keseharian mereka bermain di alam bebas dengan tangan dan kaki kotor berdebu.

Dokter Syukri asal Somalia yang terlibat aksi kesehatan bersama tim kemanusiaan PKPU  mengatakan, sedikitnya persediaan obat-obatan dan tenaga medis yang datang ke pengungsian membuat pelayanan hanya dapat dilakukan untuk ratusan orang seharinya. Pelayanan dihentikan saat obat-obatan menipis.

Sangat memiriskan memang jika melihat langsung dengan mata kepala sendiri balita-balita berada dalam gendongan ibunya dengan mata sayu, redup, perut membuncit dan tangan kaki mengecil di luar tingkat pertumbuhan normal anak-anak lainnya. Sang ibu hanya bisa melindungi anaknya dengan apa adanya. Menyembunyikan sang buah hati di balik cadar besar digunakan yang setidaknya mengurangi sengatan matahari langsung sehingga terhindar dari dehidrasi lebih parah. Setiap hari selalu ada balita meninggal dunia. Deretan kuburan berpasir diperlihatkan kepada kami.

Bahkan dalam beberapa kasus ada balita yang berat badanya hanya 2-3 kilogram atau sama dengan berat badan bayi lahir meski sudah berumur 3-4 tahun. Sang ibu terlihat mencoba menyembunyikan kesedihannya di balik raut muka tegarnya menghadapi semua kenyataan ini. Tidak perlu lagi kita tanya apa perasaan mereka, karena semua sudah tergambar dari apa yang terlihat meski tanpa kata-kata.

Persoalan gizi dan kesehatan Balita dan Ibu merupakan salah satu fokus utama yang diemban dalam misi kemanusiaan PKPU ke Somalia. Setidaknya secara bersama dapat menyelamatkan generasi baru Somalia dari lost generation, karena diperkirakan bencana ini akan berkepanjangan. Di tambah dengan dampak konflik perang saudara yang kerap mengganggu jalur logistik dan relawan memberikan bantuan. Tak ada yang dapat menjawab, sampai kapan derita mereka akan berakhir.

:: Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU dari Nairobi, Kenya
:: www.pkpu.or.id
Baca selengkapnya »
0 komentar

Lewati Pemeriksaan 3 Jam, Tim PKPU Selamat Keluar dari Mogadishu




Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (15)

Tiba di Nairobi Kenya
Setelah melewati pintu pemeriksaan selama tiga jam di Bandara Wajir, akhirnya Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU yang datang dari Mogadishu Somalia diizinkan masuk ke Nairobi, Kenya. Tim Kemanusiaan PKPU ini sukses menyalurkan bantuan untuk korban kelaparan di Mogadishu Somalia.

Dua peronil relawan PKPU yang berada di Mogadishu selama dua hari tersebut yaitu Ketua Tim Tomy Hendrajati dan Sukismo, telah keluar dengan selamat dari Mogadishu dan tiba di Nairobi Kenya pada Rabu malam (14/9/2011) pukul 07.40 waktu kenya atau 23.40 waktu Indonesia. Wajir merupakan daerah Kenya yang berbatasan langsung dengan Kenya. 

Jalur keluar dan masuk ke Mogadishu dari Kenya sangat berbeda. Untuk masuk ke Mogadishu dapat dilakukan melalui penerbangan dari Bandara Internasional Kenya dan mendarat di Bandara Mogadishu. Sebaliknya untuk kembali ke Nairobi tidak dapat dilakukan langsung, tetapi harus transit di Bandara Wajir .

Bandara Wajir hanyalah bandara kecil ukurannya seperti Bandara di Manokwari Papua. Bandara  ini sepertinya sengaja dijadikan bumper oleh Pemerintahan Kenya dalam menyaring siapapun orang yang masuk dari Somalia ke Kenya. Saringan cukup ketat juga diberlakukan Kenya di jalur darat dengan membuat hampir 23 check point atau pintu pemeriksaan terhadap kendaraan yang melintasi perbatasan. 

Kendaraan yang nekad melintas melabrak check point, siap siap saja ban kendaraannya robek, karena dipasang ranjau paku sebesar telunjuk orang dewasa yang dipasang membentangi jalan. Tapi anehnya, dari belasan titik pemeriksaan itu, tak satupun petugas keamanan dibekali senjata kecuali hanya pentungan.

"Hukum Rimba" di Bandara Mogadishu
Pengalaman tim kemanusiaan PKPU begitu mendarat di Bandara Mogadishu, Aden Abdulle menyebutkan, baru saja akan mendarat sudah terlihat jelas konsentrasi pengungsian yang tidak jauh dari pinggir lapangan pacu penerbangan. Tenda-tenda pengungsian berdiri dengan bebas. Pesawat rusak dibiarkan begitu saja di pinggir lapangan terbang. Uniknya lagi, kadang ada cerita  Jerapah melintasi lapangan pacu sehingga harus menunggu menjauh dari jalur akan digunakan pesawat terbang.

Kondisi lapangan terbang Mogadishu sangat semraut, tidak terawat. Jangan bayangkan anda akan melihat bandara internasional sekelas Soekarno Hatta, Polonia Medan ataupun BIM Minangkabau yang modern. Bandaranya Internasionalnya mungkin masih kalah di banding bandara kecil yang ada di Indonesia. 

Begitu naik pesawat,  berlakulah “hukum rimba”. Siapa yang duduk lebih awal maka dialah yang berhak duduk disitu. Siapa yang cepet akan dapat. Pramugari pesawat harus ekstra sabar, karena penumpang banyak yang bandel. Meski akan take off masih sibuk menelpon dan mondar mandir di dalam pesawat. Kedatangan tim kemanusiaan PKPU dari Mogadishu ini disambut gembira pihak KBRI di Nairobi yang ikut mengkhawatirkan kondisi keselamatan tim selama di Mogadishu.

:: Laporan Elfiyon Julinit dan Sukismo, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU dari Nairobi Kenya.
Baca selengkapnya »
0 komentar

Don’t Take Picture Soldiers and Woman!




Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (14)

Don’t take picture! Teriak Jefferson mengingatkan saya. Jefferson, pria asli Uganda tinggal di Kenya, sopir yang  membawa kami dua hari bolak balik dari Garissa ke Daadab lokasi pengungsian Somalia di perbatasan dengan Kenya yang melintasi Safana yang luas. Buru-buru saya urungkan niat mengambil beberapa petik gambar pengungsi kebetulan melintasi kendaraan sesaat tiba di Daadab.

Benar saja. Beberapa saat setelah kami tiba di Daadab, puluhan anak-anak pengungsian berlarian dengan kaki telanjang mendekati kendaraan kami. Ada beberapa pria dewasa bersarung dan sorban haji biasa dikenakan orang Indonesia. Beberapa wanita turut mendekat. Kembali saya beranikan diri mengeluarkan kamera dan reaksi mereka segera menghindar menjauh dari objek kamera.

Mengambil gambar atau foto, terutama wanita dan tentara merupakan pantangan tersendiri di pengungsian Somalia. Sebenarnya mengambil gambar selain itu juga akan dilarang dan pengungsi Somalia agak alergi dengan kamera. Mungkin mereka tidak ingin dijadikan objek menambah penderitaan mereka di masyarakat internasional sehingga memilih menolak untuk di foto.

Kabar menakutkan juga beredar jika tentara sipil bersenjata Al Shabab sangat melarang siapapun mengambil foto, termasuk memajang foto karena dianggap haram. Siapa yang berani menentang kebijakan itu akan ditembak mati.

Kejadian ini pula berkemungkinan besar menjadi sebab dua orang warga negara Malaysia, salah satunya jurnalis yang ditembak mati di Mogadishu beberapa pekan lalu karena mengambil gambar tentara milisi Somalia. Informasi itu diceritakan oleh mitra kerja PKPU dari IHH Turki saat hendak keluar dari Mogadishu.

Meskipun warga Malaysia itu  sudah mendapatkan pengawalan dari tentara bersenjata sebanyak 5 orang, tetapi jumlah milisi bersenjata lainnya jauh lebih banyak dan mereka tidak mampu berbuat apa-apa saat penembakan itu terjadi.

Berbagai cara harus dilakukan untuk mendapatkan gambar yang bagus untuk dokumentasi kegiatan, termasuk yang menceritakan suasana tengah terjadi di Somalia tersebut. Angin segar datang saat kami dari Tim Kemanusiaan PKPU bekerjasama dengan Zamzam Foundation di Daadab di bawah komando Said Barre Hasan. 

Dia mengerti benar keinginan kami untuk dokumentasi dan saat melintasi kamp pengungsian menghentikan kendaraannya untuk mengambil foto sepuasnya.  “Ambilah foto sebanyaknya agar  rakyat di Indonesia tahu keadaan kami di sini,” katanya dalam arti Indonesia. Tetapi jangan mengambil gambar yang ada orangnya, terutama wanita, pintanya.

Benar saja, seorang anak melempari mobil kami dengan botol minuman saat mengeluarkan kamera. Sejak kedatangan ke Somalia melalui Bandara Kenya, petugas imigrasi dan keamanan setempat sudah mengingatkan untuk tidak sembarangan memfoto, bahkan di bandara sekalipun.

Pantangan lainnya yang perlu diwaspadai bagi relawan dan siapapun yang datang ke Mogadishu dan lokasi pengungsian Somalia di bawah kendali pengawasan milisi bersenjata adalah menjauhi semua bentuk atribut berbau barat Amerika dan United Nations (PBB). Sebab simbol-simbol ini dianggap musuh. Termasuk juga atribut militer.












:: Laporan Elfiyon Julinit dan Sukismo, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid for Somalia PKPU dari Nairobi.
:: www.pkpu.or.id
Baca selengkapnya »
0 komentar

Distribusi Bantuan Di bawah Ancaman Peluru




Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (13)

Tim Kemanusiaan PKPU di Kawal 5 Tentara Bersenjata Siap Tembak
Sangat tidak mudah untuk mendistribusikan bantuan di Mogadishu. Kondisi keamanan yang tidak pasti membuat tim kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU harus ektra hati-hati dan menggandeng mitra kerja yang tepat. Sewaktu-waktu bisa saja terjadi serangan atau adanya peluru nyasar yang ditembakan oleh pihak-pihak bertikai di ibukota Somalia ini.

Untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan bagi korban kelaparan di Somalia, Tim Kemanusiaan PKPU menggandeng Zamzam Foundation, organisasi kemanusiaan lokal yang cukup profesional dalam penanganan bencana di Somalia maupun Kenya. Selain itu turut disyaratkan adanya pengamanan dari tentara bersenjata selama tim berada di Mogadishu. Ada lima tentara dengan senjata siap tembak selalu mengiringi tim kemanusiaan melakukan aksi-aksi kemanusiaan dari satu kamp ke kamp pengungsian lainnya.

Ketua Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU, Tomy Hendrajati mengungkapkan, kelaparan di Mogadishu tidak jauh lebih parahnya dibanding kelaparan di lokasi pengungsian lainnya di perbatasan Kenya-Somalia. Meskipun mereka mengungsi ke Ibukota, pusat pemerintahan, tetapi tetap saja persediaan makanan tidak mencukupi untuk mereka bertahan dalam beberapa bulan ke depan.

Informasi didapat PKPU, sebenarnya bantuan banyak masuk ke Mogadishu, akan tetapi bantuan tersebut susah untuk didistribusikan karena adanya konflik kepentingan antara faksi-faksi bertikai. Bantuan itu akan kian sulit diberikan kepada pengungsi karena berasal dari negara-negara Barat lengkap dengan atributnya yang sangat tidak diinginkan keberadaannya oleh sipil bersenjata yang menguasai sebagian besar kota Mogadishu.

Tim Kemanusiaan PKPU Menyiapkan Bantuan untuk 420 jiwa Penerima Manfaat
Di Mogadishu, Tim Kemanusiaan PKPU membagikan bantuan makanan berupa beras, kurma, minyak goreng dan tepung untuk 420 jiwa penerima manfaat. Setiap penerima mendapatkan satu karung beras yang merupakan makanan mahal di Somalia karena umumnya makanan utama rakyat di sini adalah tepung. Bantuan awal ini cukup untuk persediaan selama tiga bulan ke depan.

“Banyaknya lembaga kemanusiaan yang masuk ke Mogadishu ternyata belum menjamin bantuan kemanusiaan sampai ke pengungsi, butuh jaringan yang kuat dan strategi yang tepat sehingga bisa masuk ke kamp pengungsian,” ungkap Tomy Hendrajati dari Mogadishu.

Di kamp pengungsian kedatangan tim kemanusiaan PKPU disambut dengan keluhan ibu-ibu pengungsian yang berebut saling menceritakan kondisi kesehatan anak-anak mereka yang sakit. Mereka membutuhkan makanan dan obat-obatan yang cukup. Hal ini sangat terkait dengan kondisi pengungsian yang kumuh, padat dan rentan penyakit. Di tambah parah dengan minimnya sarana sanitasi air bersih, MCK.

Kondisi Mogadishu tidak ubahnya “penjara kota” di mana mereka yang ada di dalamnya hanya bebas bergerak dalam radius 5 Km di dalam kota. Meski begitu, tidak ada kata aman meski di ibukota, pertikaian antar faksi kerap terjadi tiba-tiba dan berakhir dengan perang senjata.




:: Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU dari Nairobi
:: www.pkpu.or.id
Baca selengkapnya »
0 komentar

Menuju Mogadishu, Tim Kemanusiaan PKPU Kunjungi Tiga Lokasi Pengungsian




Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (12)

Tim Kemanusiaan PKPU Terbang Menembus Mogadishu

Sekembali dari kamp pengungsian di Dadaab, Senin malam (12/9/2011) Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU langsung melanjutkan aksi kemanusiaan ke Mogadishu, Somalia. Perjalanan darat selama 8 jam cukup menguras tenaga dari Dadaab, Garissa dan Nairobi, Ibukota Kenya tidak menjadikan perjalanan misi kemanusiaan berhenti.
           
Sebelum azan subuh, Selasa (13/9/2011) sekitar pukul 04.30 waktu Kenya atau sekitar pukul 09.00 waktu Indonesia, tim kemanusiaan PKPU yaitu Tomy Hendrajati dan Sukismo bersama satu orang lainnya sudah bergerak ke Bandara Internasional Kenya dengan menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari kedutaan besar Indonesia di Upperhill Kenya tempat tim menumpang bermalam. Udara dingin saat pagi di Kenya terasa menusuk ke tulang. Dapat dibayangkan betapa dinginnya, sampai pukul 11.00 siang pun masih terasa dingin.
           
Kedua personil tim kemanusiaan PKPU ini terbang menggunakan pesawat African Airlines dan menempuh perjalanan sekitar 30 menit untuk sampai ke Ibukota Somalia, Mogadishu. Untuk sampai ke sana, tim kemanusiaan sejak awal sudah berkali-kali diingatkan dan diberikan masukan pertimbangan mengurungkan kepergian ke Mogadishu. Sebab kondisi di Ibukota Somalia tersebut yang selama ini dikuasai oleh pejuang bersenjata Al Shabab.

Radius tingkat keamanan juga dikabarkan antara satu sampai lima kilometer dari bandara setempat. Beberapa kejadian sebelumnya, dua orang jurnalis televisi swasta asal Indonesia sempat nekad menuju Mogadishu, tetapi sebelum sempat telapak kaki menginjak landasan bandara, tentara-tentara berseragam dan bersenjata memaksa mereka untuk kembali ke pesawat dan kembali ke tempat mereka semula.
          
Kondisi kota Mogadishu dari informasi diperoleh tim kemanusiaan PKPU memang serba tidak menentu dan pasti. Tidak ada informasi yang akurat mengenai apa dan bagaiamana kondisi sebenarnya di kota terbesar Somalia. Isu terus berubah-ubah dan kondisi keamanan susah ditebak. Apalagi sekarang Mogadishu sudah menjadi daerah pengungsian rakyat Somalia dari berbagai penjuru daerah guna mendapatkan bantuan akibat bencana kelaparan dan kekeringan.
          
Untuk menembus Mogadishu, Tim Kemanusiaan PKPU telah melakukan sharing informasi dan meminta bantuan untuk dibantu masuk ke ibukota seperti dari IHH Turki, Islamic Relief Kenya dan Somalia. Selama di Mogadishu, tim kemanusiaan PKPU akan dikawal oleh Zamzam Foundation yang memiliki areal kerja hingga ke Somalia.
          
Tim di bagi 2, Rompi anti Peluru tidak boleh dibawa
Atas dasar pertimbangan keamanan ini pula, semula 4 personil tim kemanusiaan PKPU akan diberangkatkan ke Mogadishu akhirnya dipecah menjadi dua kelompok. Dua personal lainnya yaitu Elfiyon Julinit dan Subur Rojinawi diminta tetap bertahan di Nairobi. Tim yang berangkat berusaha untuk datang dengan tidak menarik perhatian dari pihak manapun seperti dengan menanggalkan semua pakaian yang dapat menjurus pada satu kelompok, termasuk sepatu padang pasir diganti dengan sandal dan berpakaian batik, ciri khas Indonesia.

Termasuk tidak membawa rompi  anti peluru yang dibawa dari Indonesia. Sebab atribut-atribut tertentu terutama berbau Amerika dan United Nations seperti pernah disampaikan oleh Mr Hasan, Direktur Zamzam Foundation di Kenya adalah hal sangat sensitif dan menjadi sasaran penyerangan oleh kelompok bersenjata Al Shabab yang mengusai sebagian pusat ibukota.


Delapan jam lebih setelah keberangkatan ke Mogadishu, sampai sekarang pukul 20.01 waktu Kenya, tim di Nairobi belum berhasil melakukan kontak dengan tim ke Mogadishu baik dengan telepon lokal Safaricom maupun telepon satelit. Mohon doanya untuk keselamatan tim. (Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia, PKPU dari Nairobi)

Perjalanan yang cukup singkat dari Nairobi, Kenya menggunakan pesawat African Airlines selama 1 jam mengantarkan Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU tiba di bandara Internasional Aden Abdulle Mogadishu, Selasa pagi (13/9/2011).

 Tiba di Mogadishu, Pasport sempat di Tolak
Waktu masih menunjukkan pukul 09.10 waktu setempat, namun cuaca terasa panas. Pasport tim kemanusiaan PKPU sempat ditolak oleh imigrasi setempat karena tidak menuliskan alamat yang dituju di Mogadishu.

Untuk beberapa menit, Tim kemanusiaan PKPU yang terdiri Tomy Hendrajati dan Sukismo tidak bisa berbuat apa-apa karena kontak person dari NGO local Zamzam Foundation tidak dapat dihubungi. Dalam kondisi demikian, Tim kemanusiaan PKPU akhirnya memohon bantuan pihak berwajib di bandara. Syekh Abdul namanya, ditemui tim kemanusiaan PKPU memberikan bantuan alat komunikasinya untuk mengontak pihak Zamzam Foundation.

Bertemu Brother Arafat
Tak lama kemudian setelah berhasil dihubungi, brother Arafat tiba di lokasi hingga akhirnya tim kemanusiaan PKPU dapat melewati jalur imigrasi VIP. Diruang tunggu, tim sempat berbincang-bincang dengan brotfer Arafat mengenai situasii dan kondisi.

Selanjutnya brother Arafat mengantarkan tim kemanusiaan PKPU untuk naik ke mobil menuju kantor Pusat Zamzam Foudation di kota Mogadishu yang tidak jauh dari bandara Aden Abdulle. Setiba di kantor Zamzam Foundation, tim kemanusiaan PKPU bertemu dengan Brother Suaib yang pernah ke Indonesia dan bertemu dengan Ketua Yayasan PKPU Suryama M Sastra. 

Setelah Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU tiba di bandara Internasional Aden Abdulle Mogadishu, Selasa pagi (13/9/2011) dilanjutkan menuju kantor pusat Zamzam Foudation di kota Mogadishu.

Beberapa menit kemudian tim kemanusiaan PKPU tiba di kantor pusat Zamzam Foundation dan diterima Brother Shuaib Abdullatif Sheikh, Direktor General. Selanjutnya tim kemanusiaan PKPU diperkenalkan kepada Direktur Program Zamzam Foundation, Brother Omar

Tim Kemanusiaan PKPU Kunjungi 3 Titik Lokasi Pengungsian
Koordinasi dan komunikasi mengenai kegiatan aksi yang akan dilakukan untuk hari ini dan besok dilakukan tim kemanusiaan PKPU bersama Zamzam Foundation. Langkah pertama yang dilakukan, tim kemanusiaan PKPU bersama NGO dari Turki di ajak berkeliling melihat aktifitas serta program yang dilakukan oleh Zamzam Foundation.

Lokasi pertama yang di tinjau yaitu pembuatan pompa air dan pemukiman pengungsi di dekat pasar dengan pengawalan ketat dari tentara pemerintah berjumlah 5 orang. Para penggiat Kemanusiaan dari Indonesia dan Turki berkumpul, bertukar pikiran serta mendiskusikan program pengentasan kelaparan dan penyakit yang melanda pemukiman pengungsi di Somalia
Setelah mengunjungi lokasi pembuatan pompa air dan pemukiman pengungsi di Hamar Adebi, tim kemanusiaan PKPU diajak menuju lokasi kedua yaitu kamp pengungsi yang terletak dibawah kantor kepresidenan Somalia yang dibatasi oleh tembok setinggi 10 meter.

Di lokasi kedua ini, tim kemanusiaan PKPU diperlihatkan pembuatan WC umum yang dibangun Zamzam Foundation. Tim kemanusiaan PKPU berkesempatan untuk berdiskusi dan berkomunikasi dengan masyarakat yang tinggal di pengungsian, dilanjutkan dengan tanya jawab, serta menampung aspirasi pengungsi.

Tempat ketiga yang dikunjungi tim kemanusiaan PKPU adalah Hamar Jajab Feeding Center, yaitu dapur umum Zamzam Foundation. Sat berkunjung, di lokasi tersebut sedang diadakan pendistribusian makan siang kepada para pengungsi.

Bersama Zamzam Foundation, tim kemanusiaan PKPU ikut membantu mendistribusikan jatah makan siang tersebut kepada para pengungsi. Kondisi pengungsi yang serba kekurangan membuat Tomy Hendrajati, ketua tim kemanusiaan PKPU ikut terharu saat mendistribusikan bantuan makan tersebut.

Selanjutnya, tim kemanusiaan PKPU diajak berkeliling, ditemani brother Yusuf dari Zamzam Foundation yang terlihat masih muda, namun fasih dalam berbahasa Inggris. Pendistribusian makanan sudah dilakukan, selanjutnya tim kemanusiaan PKPU bersama Zamzam Foundation mengunjungi para pengungsi di rumah mereka masing-masing.

Pemandangan Menyedihkan
Saat berkunjung ke rumah para pengungsi, tim kemanusiaan PKPU juga diperlihatkan Zamzam Foundation seorang anak yang menderita gizi buruk, terserang penyakit malaria, DBD, TBC dan penyakit kulit. “Trenyuh rasanya hati ini melihat penderitaan mereka akibat perang saudara berkepanjangan dan tak kunjung datangnya perdamaian,” kata Tomy Hendrajati.

Seorang anak bernama Hasan dengan keadaan gizi buruk, baru beberapa hari lalu kakaknya meninggal dunia karena terserang malaria. Tim kemanusiaan PKPU pun bergegas mengambil gambar mereka dengan tujuan agar masyarakat terbuka mata hatinya bahwa ada negeri belahan tanduk Afrika yang kelaparan.
Ini Mogadishu Bung! Begitulah kata-kata yang pantas untuk mengingatkan siapapun yang ingin menerobos Mogadishu, Ibukota Somalia. Tanpa jaminan keamanan seperti  pengawalan tentara bersenjata dan pendamping yang paham kondisi setempat jangan mencoba nekad untuk tetap masuk ke Mogadishu. 

Meskipun anda sudah sampai ke bandara Mogadishu tetapi tidak memiliki dua modal ini, jangan berharap dapat turun dari pesawat menginjakan kaki karena akan diperintahkan kembali ke negara berangkat semula.

Bukan hanya masuk saja yang ketat tetapi untuk keluarpun harus melalui pemeriksaan ketat. Karena setiap orang yang keluar dari Mogadishu, menurut informasi Ahmad Bashori, staf lokal Kedubes RI di Kenya yang pernah menjemput tamu dari Mogadishu, bisa berada di bandara 3 jam untuk diperiksa. Satu persatu bawaan dan yang melekat dibadan akan dipreteli.

Rentetan senjata, lobang bekas peluru dan mortir merupakan pemandangan lumrah di Ibukota Somalia yang tengah bergejolak dilanda perang saudara. Di tambah dengan perang kelaparan dengan hadirnya jutaan pengungsi Somalia yang menderita kelaparan akibat bencana kelaparan dan kekeringan melanda negara ini sejak beberapa tahun terakhir.

Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU yang mencoba menerobos masuk ke Mogadishu, pada Selasa (13/9/2011) lalu hampir mengalami nasib sama. Ditahan di bandara Internasional Aden Abdulle. Meski sudah menyebutkan nama penjamin keamanan selama di Mogadishu, pihak keamanan tetap tidak mengizinkan keluar Bandara sampai wujud fisik orang menjamin itu muncul dari Zamzam Foundation, Lembaga Kemanusiaan lokal yang menjadi partner PKPU di Somalia. (www.pkpu.or.id)




Baca selengkapnya »
0 komentar

Pengungsi Bertahan Hidup dengan Jatah Tepung 6 kg Sebulan



Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (11)

1.200 Orang Pengungsi Baru Berdatangan ke Dadaab
Untuk bertahan hidup, ribuan pengungsi Somalia di Dadaab, di perbatasan Kenya-Somalia sangat mengandalkan bantuan yang datang. Jatah bahan makanan yang mereka terima hanya 3 kilogram tepung untuk persediaan 15 hari ke depan. Jumlah ini sangat jauh dari cukup. Itupun harus dimakan bersama anak-anak dan anggota keluarga lainnya yang butuh makanan setiap harinya.
           
Sementara itu setiap harinya sekitar 1.200 orang pengungsi baru terus berdatangan ke Dadaab. Tujuan mereka adalah sama untuk mendapatkan jatah makanan dari lembaga-lembaga kemanusiaan yang berkonsentrasi mengurusi pengungsian, termasuk di antaranya Zamzam Foundation, IHH Turki yang menjadi mitra kerja PKPU di Somalia.
           
Kedatangan bantuan bahan makanan dari Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU melalui aksi kemanusiaan Aid For Somalia sedikit memberikan darah segar kepada ratusan pengungsi di kamp Dagahley. Setidaknya mereka memiliki persediaan makanan untuk beberapa pekan ke depan. 

Porsi Bantuan PKPU lebih Banyak dari yang diberikan PBB
PKPU mendistribusikan bantuan 550 paket bahan makanan berupa tepung, beras, gula, minyak goreng dan susu bubuk. Jumlah per paketnya lebih banyak dari porsi bantuan yang diberikan UN. Bantuan diserahkan dengan berkoordinasi dengan Zamzam Foundation yang sudah sangat paham cara mengelola pengungsian di kawasan Dadaab tersebut.
           
Saat bantuan datang yang diangkut dengan menggunakan tiga truk, para pengungsi langsung berkumpul mengelilingi posko distribusi yang dikelilingi pagar kawat. Dua orang tentara bersenjata juga tampak berjaga-jaga untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Sebab kondisi terburuk dapat terjadi ditengah kepanikan emosional pengungsi yang sama-sama butuh bantuan makanan. Perang mulut dari pengungsi terdengar beberapa kali dan dengan cepat ditenangkan oleh Said Barre Hasan.
           
Saat pembagian bantuan dilakukan dengan sistem bergantian diawali perempuan dan kemudian laki-laki, badai safana tiba-tiba sempat terjadi sehingga menerbangkan debu tebal membuat relawan berlarian berlindung di balik pohon ataupun pondok. Untung hal ini hanya berlangsung beberapa detik.
           
Said Barre Hasan mengungkapkan rasa terima kasihnya dan menitipkan salam untuk rakyat Indonesia yang telah membantu. Pihaknya meminta jangan hanya penderitaan rakyat Somalia yang diekspos dan dipublikasikan, tetapi sampaikan juga rasa terima kasih kami kepada masyarakat Indonesia.
           
Distribusi bantuan tersebut berlangsung aman dan lancar dan kemudian tim kemanusiaan PKPU kembali bertolak ke Nairobi untuk meneruskan misi kemanusiaan ke Mogadishu guna menemui pengungsian di sana.






:: Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia dari Daadab, Kenya-Somalia. 
Baca selengkapnya »
0 komentar

Aksi Kemanusiaan PKPU di Kamp Pengungsi Daadab




Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (10)

Perjalanan Melintasi Daerah Rawan Bandit dan Binatang Buas
Setelah terguncang-guncang dalam perjalanan melintasi Safana kering dan tandus selama 3 jam, akhirnya Tim Kemanusiaan PKPU beranggotakan 4 personil tiba di kamp pengungsian terbesar rakyat Somalia yang letaknya di perbatasan Somalia dengan Kenya.

Untuk mencapai lokasi pengungsian di kawasan Daadab ini bukanlah perkara mudah, karena selain medan yang cukup berat, termasuk jalur tidak aman yang menjadi habitat beragam  binatang buas. Tidak jarang para bandit turut menggunakan jalur ini untuk merampok kendaraan yang melintas. Sebagaimana yang terjadi Minggu tersebut, terjadi penembakan terhadap bus penumpang.

Keterangan dari Said Barre Hasan, orang nomor dua di Zamzam Foundation yang setiap hari mengurusi pengungsian di daerah ini mengungkapkan bahwa Daadab merupakan salah satu kawasan pengungsian terbesar warga Somalia. Terdapat sejumlah kamp pengungsian padat.

Kamp Pengungsian Dagahley
Adapun kamp pengungsian pertama yang di datangi Tim Kemanusiaan PKPU adalah kamp pengungsian Dagahley. Sekitar 120 ribuan orang tinggal di lokasi pengungsian ini dengan kondisi memprihatinkan. Pada jarak 20 kilometer di dekatnya terdapat kamp pengungsian IFO dan Hagadera juga terdapat sekitar 130 ribuan warga Somalia yang mencoba tetap bertahap hidup di tengah bencana kekeringan dan kelaparan melanda.

Pemandangan memprihatinkan, menyedihkan dan akan membuat kita menitikan air mata jika melihat langsung lokasi pengungsian ini. Betapa tidak, ribuan manusia hidup dari hari ke hari dan bahkan bertahun-tahun di tempat ini. Tidak ada rumah permanen, semi permanen ataupun sekelas rumah sederhana di Indonesia.

Mereka hidup di bawah tenda-tenda pengungsian ukuran dua kali dua meter yang sebagian besar mereka buat sendiri. Bentuknya hampir mirip dengan rumah para eskimo di kutub utara atau rumah tinggal manusia zaman purba berbentuk setengah lingkaran.

Dindingnya terbuat dari kumpulan ranting-ranting tanaman mengering disusun rapat. Bagian atas ditutup dengan terpal, kain  atau  apa saja lembaran yang dapat mereka gunakan seperti potongan plat kotak makanan, kerta kardus untuk menahan masuknya udara malam ke tenda. Dinding ranting ini kadangkala diolesi anah liat basah dengan menggunakan kotoran sapi sebagai pengganti semen. Tetapi juga cukup banyak pengungsian yang hidup di alam terbuka.

Said Barre Hasan, pria ramah asal Somalia yang menyambut kedatangan Tim Kemanusiaan PKPU setiba di lokasi pengungsian ini. Tim di ajak berkeliling melihat kondiri riil kondisi pengungsi. Di lokasi pengungsian mayoritas Muslim ini, Zamzam Foundation, NGO lokal banyak memainkan peran penting membantu mengurus pengungsi di Daadab. 

Sarung Buatan Indonesia
Saat tim kemanusiaan PKPU datang, anak anak dan remaja meneriaki kami “Arab, Arab, Arab”. Setelah disebutkan bahwa tim datang dari Indonesia mereka menjadi tahu. Apalagi setelah disebutkan bahwa sarung yang sedang mereka kenakan adalah buatan Indonesia.

Dilokasi pengungsian ini Tim Kemanusiaan PKPU melakukan aksi kesehatan bersama dengan lembaga lainnya. Melayani pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan. Kebanyakan pengungsi mengalami malaria dan anak-anak kekurangan gizi, nutrisi di samping kekurangan makanan.







:: Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia dari Daadab, Kenya-Somalia.  
:: www.pkpu.or.id           
Baca selengkapnya »
0 komentar

Keceriaan Ditengah Debu Safana


 
Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (9)

Trauma Healing PKPU untuk Anak-anak Somalia

Di tengah penderitaan panjang seakan tanpa ujung, anak-anak di kamp pengungsian Somalia melupakan sejenak beban berat dengan tersenyum dan tertawa gembira bersama Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid for Somalia PKPU.

Sejumlah bentuk permainan yang diberikan oleh tim kemanusiaan PKPU dengan melibatkan langsung  anak-anak  mampu membuat anak-anak  harapan Benua Hitam itu senang dan tertawa lepas.  Belum ada lembaga bantuan sebelumnya yang mengajak mereka bermain seperti itu.

Di tengah terik matahari Afrika, meski dengan muka, tangan, kaki bahkan hampir sekujur badan penuh debu Safana, ternyata tidak mengurangi keceriaan anak-anak bermain dan melepaskan sejenak beban penderitaan selama di pengungsian yang tidak seharusnya ditanggung anak seusia mereka sebagaimana anak lainya di negara lain dapat mencicipi kebahagiaan. Tetapi tatapan harapan masa depan masih terpancar di bola mata mereka.

Bermain dengan anak pengungsi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam rangkaian aksi kemanusiaan PKPU di lokasi pengungsian Dagahley, Daadab, terletak di perbatasan Kenya- Somalia. Di lokasi pengungsian ini terdapat 120 ribuan orang pengungsi dari warga Somalia dan di antaranya ribuan anak-anak.

Melalui permainan sederhana, seperti bermain mencari kelompok dan permainan melompat berkelompok dengan yel-yel yang memotivasi semangat dengan dipandu koordinator Rescue PKPU, Subur Rojinawi, anak-anak terlihat antusias. Mereka sangat cepat memahami instruksi yang diberikan meski pada awalnya membutuhkan pemahaman karena keterbatasan pemahaman bahasa.

Permen dari Indonesia untuk Anak-anak Somalia
Ketua Tim Kemanusiaan PKPU, Tomy Hendrajati dan anggota tim lainnya turut ambil peran dengan memberikan hadiah kecil berupa permen yang sengaja dibawa dari Indonesia. Betapa senangnya hati mereka karena ini adalah permen manis pertama yang mereka rasakan selama di pengungsian.

Meski demikian, dibalik suasana gembira ini, setiap hari selalu ada berita kematian dari kalangan balita dan anak-anak dari lokasi pengungsian Somalia ini. Menurut Said Barre Hasan, dari Zamzam Foundation yang mengelola kamp ini, satu anak meninggal dunia setiap harinya di lokasi ini saja. Sementara ribuan anak mengalami kekurangan gizi dan makanan sehingga mempengaruhi pertumbuhan badan dan ketahanannya.





: Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU dari Kamp Pengungsi Dadaab, Kenya-Somalia 
: www.pkpu.or.id
Baca selengkapnya »
1 komentar

Road to Dadaab Somalia




Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (8)

Bergerak dari Upperhill Menggunakan Toyota Prado
Tim Kemanusiaan Indonesia Aid For Somalia PKPU bergerak menuju kamp pengungsian Dadaab yang merupakan kawasan pengungsi Somalia di perbatasan kenya pada pukul 14.00 waktu Kenya atau pukul 18.00 waktu di Indonesia.

Tim Aid For Somalia berangkat dari kedutaan besar Indonesia di kawasan Upperhill menggunakan kendaraan Toyota Prado. Selain dari PKPU turut serta satu iringan dari Dompet Dhuafa serta 2 orang jurnalis dari TVOne. Perjalanan menuju Dadaab tempat mengungsinya sekitar 600 ribuan warga Somalia itu ditempuh dengan perjalanan darat selama 7 jam.

Azan Isya Sambut Kedatangan Tim Kemanusiaan PKPU di Gharissa

Kumandang azan Isya menyambut kedatangan kami dari Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid for Somalia PKPU di Kota Gharissa, Kenya, setelah menempuh perjalanan darat cukup panjang dan melelahkan selama 6 jam tanpa henti dari Nairobi, Ibukota Kenya.

Tim Kemanusiaan PKPU beranggotakan 4 personil yang telah berada di Kenya sejak Kamis (8/9/2011) lalu bertolak dari Kantor Besar Indonesia di Kenya di Nairobi Sabtu (10/9/2011) sekitar pukul 13.15 WIB dan sampai di Gharissa sekitar pukul 20.05 waktu Kenya atau pukul 00.05 waktu Indonesia.

Jefferson, sopir warga negara Kenya yang membawa kami sepertinya tidak ingin berlama-lama di jalan. Karena suasana malam hari susah ditebak kondisinya. Kakinya terus menginjak gas mobil tidak jauh dari kecepatan 110 -120 KM per jam.

Perjalanan menembus Daadab, lokasi pengungsian Somalia terletak di perbatasan Kenya ini sangat menantang. Selepas meninggalkan ibukota Kenya dengan dilepas dengan doa bersama Bapak Wisnu, Mahendra, Kuasa Usaha Ad Interim atau Pejabat Duta Besar di Kenya, jalanan yang dilalui hanyalah hamparan tanah luas, kering gersang dengan rumput semak menguning kering. Udara panas menyengat di atas kepala dengan tiupan udara kering. Udara kering ini membuat mimisan, darah mengucur dari hidung dua dari 8 anggota rombongan.

Nyaris jalanan ratusan kilometer dengan kondisi jalan bergelombang dan berlobang itu sepi dari penduduk. Sesekali ditemui kelompok pemukiman penduduk dalam bentuk rumah sangat tradisional dengan dinding kayu dicampur olesan tanah liat yang tingginya sekitar berdiri orang dewasa.

Tidak jarang Jefferson melambatkan laju kendaraan karena tiba-tiba ada rombongan sapi dan kambing melintasi hamparan kawasan nyaris tanpa tuan itu. Keledai dan onta sudah menjadi pemandangan lazim kerap ditemukan di pinggiran jalan termasuk hewan buas lainnya seperti Singa. Untung kami tidak menemuinya.

Ada ¬belasan check point atau titik pemeriksaan dipasang Polisi Kenya harus dilewati. Di tiap Check point tersebut kendaraan tidak bisa lewat tanpa izin dari polisi karena di tengah jalan dihamparkan jebakan paku besi yang dapat merobek ban kendaraan. Pihak kedubes sendiri telah mengantisipasi dengan memberikan surat izin resmi agar kami diizinkan melintas ke Daadab.

Bersyukur, kendaraan dipersilahkan lewat tanpa adanya pemeriksaan surat dan pasport. Menurut informasi, pemeriksaan itu dilakukan kepolisian Kenya untuk mengantipasi masuknya kelompok bersenjata di Somalia ke Kenya.

Dalam perjalanan ke Garissa ini, turut serta NGO Lokal, Zamzam Foundation Bapak Malik yang akan membantu memfasilitasi kegiatan di Daadab nanti. Perjalanan akan diteruskan Minggu pagi ke Daadab mengingat sudah malam dan rawan keamanan. Bapak Wisnu sendiri dari Kedubes memberikan perhatian sangat baik dan sempat mengecek proses perjalanan untuk memastikan tim dari Indonesia sampai dengan selamat di Garissa.


:: Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU dari Perbatasan Kenya-Somalia

:: www.pkpu.or.id
Baca selengkapnya »
0 komentar

Titik Pengungsian Terus Bertambah di Somalia dan Kenya



Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (7)

Bertemu Islamic Relief Kenya dan Somalia  
Somalia, negara yang “buta”. Buta informasi dan apa sebenarnya tengah terjadi di negara tanduk Afrika ini. Termasuk mengenai dimana dan seberapa banyak sebenarnya jumlah pengungsian, korban kelaparan dan kondisi situasi keamanan yang tidak menentu. Banyak kabar kekerasan yang sampai ke telinga kami dari Tim Kemanusiaan Indonesia Aid For Somalia PKPU. 

Mulai dari kabar penembakan di lokasi pengungsian baik terhadap rakyat yang kelaparan, termasuk terhadap relawan kemanusiaan dan jurnalis. Tembak menembak antara tentara dan sipil bersenjata bukan hal asing lagi di negara nyaris tidak bertuan ini, karena kekuasaan sebagian di bawah pengaruh non pemerintah.

Selama ini informasi yang berkembang, titik pengungsian terbesar berada di pengungsian Dadaab yang terletak paling ujung Somalia berbatasan dengan Kenya. Jalan masuk paling dekat baik melalui Kenya atau melintasi melewati pintu Ethiopia. Di sini ada sekitar 600 ribuan pengungsi dan kelaparan. Lokasi terbesar kedua ada di Mogadishu, ibukota Somalia yang “diserbu” oleh rakyat Somalia yang ingin mendapatkan bantuan makanan. 

Keduanya mendapatkan bantuan suplay makanan dari banyak organisasi kemanusiaan termasuk UNHCR, lembaga PBB yang mengurus pengungsian. Meski begitu juga sangat banyak bantuan tidak dapat disalurkan, terutama yang berasal dari lembaga Eropa dan Barat karena sensitif berada di kawasan dikuasai oleh pasukan sipil bersenjata.

Namun sebenarnya masih banyak lokasi pengungsian lainnya yang luput dari perhatian dunia. Seperti terungkap dalam komunikasi antara Tim Kemanusiaan Indonesia Aid For Somalia PKPU dengan Organisasi Internasional Islamic Relief Kenya dan Somalia, Jumat (9/9/2011).

Stenley dari Islam Relief Kenya dalam penjelasannya mengungkapkan, sudah banyak pemain bantuan yang masuk ke Mogadishu dan Dadaab. Untuk itu mereka kini mengalihkan perhatian ke lokasi pengungsian lainnya yaitu di wilayah setingkat provinsi yaitu Mandera dan Wajir. Letaknya diujung Somalia yang berbatasan dengan Ethiopia dan di apit dengan negara baru Somaliland. Di Mandera, kawasan tandus kini dihuni sekitar 300 ribuan pengungsi dari Somalia, jumlah itu belum termasuk di Wajir.

Tidak boleh ada label UN di bantuan, Sangat berbahaya
Persoalan utama di kawasan ini yaitu kekurangan bahan makanan, nutrisi dan gizi untuk anak-anak, ibu hamil dan menyusui. Kawasan ini di luar kendali dan pengawasan UNCHR dan kondisinya tidak jauh lebih parah dibandingkan pengungsian lainnya. Organisasi ini dapat masuk ke lokasi pengungsian yang berada di bawah kendali gerakan kelompok Islam garis keras Al Shabaab yang juga mengendalikan hampir separuh ibukota Mogadishu karena tidak atas nama UN dan lembaga Barat.

“Tidak boleh ada label UN di bantuan, Sangat berbahaya,” ungkap Stenley menjelaskan program-program yang mereka tangani di lokasi pengungsian tersebut kepada tim PKPU di markasnya di Kenya. Dalam pertemuan dengan Islamic Relief Kenya ini, Tim Kemanusiaan PKPU turut diterima oleh Country Director, Nasr Muflahi.

Sementara itu, dalam pertemuan dengan Islamic Relief Somalia diterima oleh Country Director Dr Iffthikar Mohamed yang banyak menjelaskan tentang keamanan untuk masuk ke Somalia. Kekuasaan Al Shaabab sangat kuat dan selalu mengawasi setiap bantuan yang masuk. Pihaknya juga merekomendasikan agar menggunakan lembaga lokal untuk bisa masuk ke wilayah-wilayah pengungsian tersebut.

Direncanakan, tim kemanusiaan Indonesia Aid For Somalia PKPU, Sabtu siang (10/9/2011) pukul 12.00 waktu Kenya atau pukul 16.00 WIB akan bergerak ke Gadizha untuk mencapai Dadaab. Diperkirakan perjalanan darat akan memakan waktu selama 6 jam.

 

:: Laporan Elfiyon Julinit Tim Kemanusiaan Indonesia, Aid For Somalia PKPU dari Nairobi. Kenya
:: www.pkpu.or.id
 
 
Baca selengkapnya »
1 komentar

Mematangkan Persiapan Aksi Kemanusiaan, Tim PKPU Sharing dengan Zamzam Foundation



Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (6)

Zamzam Foundation NGO Lokal yang memiliki reputasi dan kinerja sangat baik di Somalia
Mematangkan persiapan aksi kemanusiaan untuk membantu korban kelaparan di Somalia, Tim Kemanusiaan Indonesia “Aid For Somalia” PKPU melakukan sejumlah koordinasi dan sharing informasi dengan sejumlah NGO lokal dan internasional yang sudah masuk ke Somalia. 

Seperti dengan NGO Zamzam Foundation yang merupakan NGO Lokal tetapi memiliki reputasi dan kinerja sangat baik di Somalia. Keberadaan mereka juga sangat diterima masyarakat baik oleh pemerintah maupun oleh pihak sipil bersenjata yang kini berperang melawan tentara pemerintahannya.

Pembicaraan intensif dalam suasana persaudaraan tercipta dalam komunikasi langsung antara tim PKPU yang dipimpin oleh Direktur Pendayagunaan Tomy Hendrajati dengan pimpinan Zamzam yang berpusat di Nairobi Kenya, Hasan.  Banyak informasi diberikan oleh Hasan kepada PKPU baik mengenai situasi terakhir di Ibukota Somalia Mogadishu, termasuk di Dadaab, kamp pengungsian yang akan menjadi tujuan Tim Kemanusiaan PKPU yang terletak di perbatasan Somalia dengan Kenya.

Kerjasama dengan NGO lokal ini sangat diperlukan karena situasi dan kondisi di Somalia saat ini, terutama masalah keamanan sangat penting diperhitungkan karena kekerasan sangat rentan terjadi. Hal ini tidak lepas dari rentetan konflik perang saudara dan ditambah lagi dengan kondisi psikologis masyarakat Somalia yang dihimpit masalah kelaparan membuat suasana semula tenang bisa berubah menjadi kekacauan.

Hasan, pria mudah senyum ini sangat akomodatif dan senang dengan kedatangan tim PKPU  dengan tujuan mulia membantu saudara-saudara mereka di Somalia. Berbagai informasi yang diperlukan diberikan kepada PKPU, termasuk mengenai jalur aman menuju kamp pengungsian Dadaab dan Mogadishu, tempat pembelian logistik bantuan yang terjamin dan cara-cara membawa bantuan masuk ke areal pengungsian. 

Menurutnya, saat ini rakyat Somalia selain membutuhkan penanganan kesehatan melalui tim medis yang minim, membutuhkan sejumlah barang kebutuhan pokok seperti gula, tepung, minyak dan beras. Beras merupakan makanan pilihan kedua di Somalia setelah Jagung karenaharganya terbilang selangit bagi orang Somalia.

Dalam perbincangannya dengan Zamzam Foundation, Tomy Hendrajati mengungkapkan dengan adanya informasi itu diharapkan bantuan akan lebih tepat sasaran dan terdistribusi dengan baik. “Sebab di tengah suasana keamanan yang tidak dapat diprediksi ini, lembaga lokal sangat berperan. Keberadaan mereka sekaligus menjadi solusi pintu masuk ke wilayah bencana yang diselingi konflik bersenjata yang tidak mengenal kawan dan lawan,” kata Tomy.

:: Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan Indonesia "Aid For Somalia" PKPU dari Nairobi, Kenya
:: www.pkpu.or.id
Baca selengkapnya »
0 komentar

Saat Indonesia Raya Berkumandang di Nairobi


Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (5)

Peringatan HAORNAS di Kedubes RI
Di tengah kesibukan mempersiapkan aksi kemanusiaan ke Somalia untuk membantu korban kelaparan, sebagai bentuk kecintaan terhadap Indonesia, Tim Kemanusiaan Indonesia “Aid For Somalia” PKPU menyempatkan diri untuk ikut dalam upacara peringatan hari olahraga nasional di Kedutaan Besar Indonesia di Nairobi, Kenya.

Upacara berlangsung singkat dan sederhana dipimpin langsung oleh Kuasa Usaha ad interim atau Pejabat Duta Besar Indonesia di Kedutaan Besar di Republik Kenya, Wisnu Mahendra Kusuma. Turut ikut dalam upacara ini 4 staf kedutaan dan relawan kemanusiaan dari PKPU, Dompet Dhuafa serta dua orang wartawan televisi, TVOne.

Bangga Sebagai Warga Negara Republik Indonesia
Upacara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sangat terasa jika di saat tersebut tengah jauh dari tanah air dan sekaligus memunculkan kebanggaan jika masyarakat Indonesia juga dapat berbuat sesuatu untuk masyarakat dunia lainnya, khususnya Somalia yang kini dilanda bencana kelaparan dan kekeringan berkepanjangan.

Kemudian pembacaan Pancasila, amanat pemimpin upacara dan diakhiri dengan doa bersama. Peringatan Haornas ini dilakukan di dalam ruangan KBRI dan setiap adanya peringatan tertentu di Indonesia juga akan dilakukan di KBRI meski tidak lebih dari 15 menit.

Untuk diketahui, jumlah warga negara Indonesia yang berada di Kenya saat ini menurut keterangan Kedubes Indonesia di Kenya, tidak lebih dari 100 orang dan sebagiannya bekerja di sektor informasi seperti di rumah tangga dan pekerja.

Dari pandangan mata sisi sisi kota di Nairobi masih tergolong negara berkembang dan tengah gencarnya melalukan pembangunan fisik meski secara infrastruktur masih jauh di bawah Indonesia. Investasi dikuasai oleh China dan sebagian oleh India.



:: Laporan Elfiyon Julini, Tim Kemanusiaan Indonesia "Aid For Somalia" PKPU dari Nairobi Kenya ...www.pkpu.or.id...
Baca selengkapnya »
0 komentar

PKPU dan TVOne Diundang ke Sidang Konfrensi UNEP PBB



Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (4)

Ikut Serta di Sidang UNEP PBB
Hari Jumat (9/9/2011) mulai pukul 14.00 waktu setempat, Tim Kemanusiaan Indonesia “Aid For Somalia” PKPU bersama TVOne mendapatkan undangan untuk bisa turut serta menyaksikan dan meliput sidang UNEP PBB (United Nation Envroment Program) yaitu Badan Dunia yang mengurusi Pemukiman dan Lingkungan Hidup.

PKPU bersama TVOne didamping serta difasiltasi oleh KBRI di Nairobi untuk dapat berperan aktif guna mengikuti jalannya konferensi tersebut. Acara digelar di Gedung UNON (United Nation of Nairobi) dengan pengaman yang sangat ketat.

Sidang UNEP ini dihadiri oleh beberapa Kepala Negara di Afrika seperti Kenya, Uganda, Somalia, Ethiopia, Tanzania, Mauritius serta 53 perwakilan negara2 di benua Afrika, juga beberapa NGO yang berkompeten di bidangnya sebagai perwakilan.

Konferensi yang diselenggarakan selama 2 hari ini, bertajuk “Horn of Africa Crisis”. Mengambil isu serta membahas beberapa hal terkait dengan situasi dan kondisi kelaparan yang sekarang mulai meluas di beberapa negara di belahan Afrika. Tidak hanya di Somalia, namun juga sudah menyebar di sebagian Kenya, Uganda, Ethiopia serta Jibouti.






Rekomendasi UNEP sejalan dengan Misi PKPU
Rekomendasi yang dihasilkan pada sidang UNEP tersebut, sejalan dengan misi yang saat ini diemban oleh Tim Kemanusiaan Indonesia “Aid for Somalia” PKPU yang saat ini sedang berada di Nairobi. Rencana, Sabtu pagi (10/9/2011) akan berangkat menuju lokasi pengungsian Dadaab di perbatasan Kenya dan Somalia untuk mengawali misi kemanusiaan.


Laporan Sukismo, Tim Kemanusiaan Indonesia AID FOR SOMALIA PKPU dari Kenya www.pkpu.or.id
Baca selengkapnya »
0 komentar

Sambutan Baik KBRI di Nairobi Kenya



Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (3)


Sambutan Baik KBRI di Nairobi Kenya
Kedutaan Besar Indonesia di Nairobi Kenya menyambut baik kedatangan Tim Kemanusiaaan “Aid For Somalia” PKPU untuk tujuan membantu rakyat Somalia yang dilanda bencana kelaparan. Pihak Kedutaan berjanji sebisa mungkin membantu kelancaran misi ini meski tetap menyarankan agar menjauhi zona-zona berbahaya. Sebab, Somalia berada di luar yuridiksinya diplomatis.

Tim Kemanusiaan PKPU beranggotakan 4 personil yang tiba di Nairobi Kenya, Kamis (8/9/2011) pagi waktu setempat setelah menempuh perjalanan belasan ribu mil dari Jakarta diterima oleh Kuasa usaha ad interim di Kedutan Besar Republik Kenya, Wisnu Mahendra Kusuma.

Pihak kedutaan memberikan sejumlah informasi dan masukan kepada tim mengenai kondisi di Somalia, terutama menyangkut persoalan keamanan di kawasan tujuan Tim Kemanusiaan yaitu Ibukota Somalia, Mogadishu dan Dadaab, terletak di perbatasan Kenya-Somalia yang kini menjadi lokasi pengungsian rakyat Somalia yang kelaparan. 

Wisnu: “Kalau tetap kesana ya harus siap mati"
Dari keterangan Kedubes di Kenya, kawasan Dadaab meski masuk ke bagian Kenya tetapi termasuk kawasan zona merah yang rentan terjadi kekerasan, termasuk kriminalitas. Kondisi ini dipicu kondisi pengungsi yang sangat membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Demikian juga dengan kawasan Ibukota Mogadishu yang dikabarkan kini dipadati pengungsian dari daerah-daerah. Intinya Kedubes di Kenya tidak merekomendasikan untuk kedua tujuan itu kecuali ada pihak lain yang menjadi relasi tim kemanusiaan dapat menjamin keamanan selama disana.

“Kalau tetap kesana ya harus siap mati. Terus terang soal Somalia serba buta karena situasi yang berubah-ubah. Kecuali ada yang dapat menjamin keselamatan disana dan kami akan bantu sebisa kami,” kata Wisnu.

Kedubes Indonesia di Kenya yang terletak di kawasan Upperhill Nairobi turut memberikan tempat menginap, termasuk fasilitas internet jika diperlukan selama berada di Kenya dan akan memberikan rekomendasi pihak-pihak mana saja yang dapat diajak membantu seperti transportasi dan kepentingan pengadaan logistik bantuan.

Zona Aman di Somalia Hanya 1 Km
Tomy Hendrajati, Koordinator Tim Kemanusiaan PKPU menjelaskan bahwa tujuan kedatangan tim ini untuk membantu korban kelaparan, terutama anak-anak dan ibu-ibu di Somalia. Kedua kawasan tujuan PKPU yaitu Mogadishu dan Dadaab karena terkosentrasi banyak pengungsi dengan tingkat kerentanan tinggi.

Mengantisipasi masalah ancaman keamanan tersebut, tim kemanusiaan PKPU akan menjalin kerjasama dengan lembaga lokal dan internasional seperti Zamzam Foundation dan Islamic Rilief maupun IHH Turki. Kehadiran PKPU di Kedubes ini sekaligus untuk menjalin koordinasi karena salah satu pintu masuk ke Somalia melalui Kenya.

Pada kesempatan itu, Tomy Hendrajati atas nama kelembagaan menyampaikan terima kasih dan menyerahkan cenderamata dan buku berisi aksi-aksi kemanusiaan PKPU di sejumlah daerah bencana.

Selanjutnya untuk ke Somalia, Jumat siang ini PKPU bersama sejumlah organisasi melakukan koordinasi mengenai langkah lanjut kesiapan memasuki Somalia. Kabarnya untuk kawasan Mogadishu, areal keamanan kian dipersempit hanya radius 1 kilometer dari Bandara setempat. 

Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan PKPU dari Nairobi, Kenya (www.pkpu.or.id)

 

 
Baca selengkapnya »
0 komentar

Tim PKPU Tiba di Nairobi Kenya setelah Transit di Dubai



Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (2)

Transit di Dubai selama 4 Jam
Tim kemanusiaan PKPU yang beranggotakan empat orang dipimpin Direktur Pendayagunaan PKPU Tomy Hendrajati mendarat di Bandara Dubai pukul 06.00 waktu setempat setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dari Bandara Soekarno Hatta, Kamis (8/9/2011) pukul 00.30 WIB.

Selanjutnya transit menuju ibukota Kenya, Nairobi menunggu penerbangan berikutnya selama 4 jam. Setelah tiba di Nairobi nanti akan dilakukan koordinasi mengenai langkah aksi kemanusiaan yang akan dilakukan tim selama di Somalia.

Tiba di Nairobi Kenya
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang lebih kurang sekitar 4,5 jam dari Dubai pukul 10.45 waktu Dubai, akhirnya tim kemanusiaan “Aid for Somalia” PKPU mendarakan kakinya di Nairobi, ibukota Kenya melalui Bandara Internasional To Jomo Kenyyata pada pukul 15.00 siang waktu Kenya, Kamis (8/9/2011). Ada perbedaan 4 jam lebih awal waktu Kenya dari Indonesia.

Tim Kemanusiaan PKPU, yang dipimpin langsung Direktur Pendayagunaan, Tomy Hendrajati dengan tujuan membantu korban kelaparan di Somalia ini menuju ke Somalia dengan menggunakan pintu masuk melalui Nairobi Kenya, karena Negara tetangga terdekat dengan Somalia. Salah satu lokasi pengungsian terbesar rakyat Somalia juga berada di perbatasan Kenya dengan Somalia di kawasan Dadaab yang berada di bawah pengawasan UNHCR.

Tim Kemanusiaan PKPU beranggotakan 4 orang yaitu Tomy Hendrajati, Subur Rojinawi, Sukismo dan Elfiyon Julinit setiba di Bandara Internasional Kenya awalnya berjalan dengan lancar dengan disambut langsung oleh staf Kedutaan Besar Indonsia di Nairobi Kenya, Bapak Suryo.

Diinterogasi Oleh Polisi Kenya
Namun untuk masuk ke Kenya bagi orang asing tidak semudah dibayangkan. Semula dengan membayar biaya visa kunjungan sebesar 50 USD perorang sudah dapat keluar dari Bandara. Sebanyak 4 kali pemeriksaan harus dilewati oleh tim kemanusiaan ini dan sempat diinterogasi oleh polisi Kenya di ruangan keamanan di Bandara mengenai tujuan kedatangan dan barang-barang yang dibawa. Pasport dan surat-surat berulang kali diperiksa.  

Menurut Bapak Suryo, biasanya setiap orang asing yang masuk dengan membawa serta sejumlah barang akan diperiksa ketat dengan disuruh membuka seluruh isi barang bawaan. Berbagai alasan dijadikan petugas keamanan setempat untuk menahan tim keluar dari lokasi bandara. Meski pada pengambilan bagasi sudah diperiksa, tetapi kemudian kembali diperiksa saat hendak keluar dan diperintahkan masuk ke ruang keamanan bandara dan barang-barang dilarang dibawa.

Ada kecemasan bagi tim jika barang-barang bawaan itu dibuka, karena di dalamnya terdapat sejumlah kelengkapan yang mungkin akan dijadikan alasan melarang masuk ke Kenya, seperti obat-obatan tim, uang bantuan yang dibawa, 6 unit rompi anti peluru militer yang akan digunakan tim selama menjalankan misi kemanusiaan di Negara kini juga dilanda konflik perang saudara tersebut.

Berhasil Keluar Bandara
Berkat bantuan dan lobi-lobi dari KBRI di Nairobi Kenya, Bapak Suryo yang dengan ramah menjemput kedatangan kami sejak awal berusaha meyakinan pihak keamanan kalau kami adalah tamu mereka dan tidak ada yang berbahaya dalam bawaan tim ini.

Sebanyak 6 orang petugas keamanan berhasil diyakinan dan akhirnya tim kemanusiaan berhasil keluar bandara dengan menggunakan mobil KBRI menuju Kedutaan Besar. Jika menggunakan jalur kedatangan biasa tanpa peran KBRI tentu prosesnya akan semakin panjang.

Laporan Elfiyon Julinit, Tim Kemanusiaan PKPU dari Nairobi, Kenya (www.pkpu.or.id)
Baca selengkapnya »
0 komentar

Tim PKPU Take Off ke Somalia


Catatan Perjalanan Tim PKPU ke Somalia (1)
Bersiap "TAKE OFF KE SOMALIA" : dihantarkan langsung oleh Ketua Yayasan dan CEO PKPU.. Tim Kemanusiaan "Aid For Somalia" = Tommy Hendrajati, M. Sukismo, Subur Rohjinawi & Elfiyon Tanjung 

Semoga Allah memudahkan dan memberkahi perjalanan mereka, dan semoga dapat memberikan bantuan terbaik bagi saudara-saudara kita di Somalia yang saat ini sangat darurat membutuhan Bantuan.

Sebelumnya dalam siaran Persnya : 

Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU, Rabu (7/9), mengirimkan tim misi kemanusiaan ke Somalia, negara yang hampir separuh dari 3,7 juta warganya mengalami krisis makanan. Misi kemanusiaan ini merupakan kedua dikirimkan PKPU ke Somalia setelah sebulan sebelumnya mengirimkan bantuan kemanusiaan dengan bekerjasama organisasi internasional Turki, IHH.

“Misi kedua ini merupakan langkah tindak lanjut komitmen PKPU untuk bersama membantu persoalan kelaparan dan kekeringan di Somalia,” demikian rilis PKPU. Dalam misi kemanusiaan ke Somalia, PKPU berkonsultasi dan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Somalia di Jakarta.

Misi kemanusiaan PKPU ini dipimpin oleh Direktur Pendayagunaan PKPU, Tomy Hendrajati, bersama Koordinator Rescue Subur Rohjinawi dan koordinator media dan komunikasi, Sukismo dan Elfiyon Julinit.

Tomy mengatakan sudah banyak yang dilakukan dan turun tangan membantu Somalia, namun masih sangat banyak lagi yang perlu dilakukan. Prioritas  adalah menyelamatan masyarakat Somalia dari kelaparan dengan mengirimkan bantuan makanan, obat-obatan dan keperluan  mendasar lainnya  secara berkelanjutan. 

Tim yang dikirimkan ke Somalia ini  memiliki tugas melakukan asesmen lapangan terhadap kondisi masyarakat di Somalia sesuai dengan kapasitas PKPU. “Agar tidak bak menebar garam di lautan, maka diperlukan perencanaan dengan terstruktur agar  menjawab  persoalan mendasar di masyarakat Somalia, bernilai penting,  tepat sasaran, cara, serta waktunya,” ujar rilis PKPU.

Bencana kelaparan dan kekeringan semakin meluas di Somalia. Hampir separuh dari 3,7 juta jiwa penduduknya dalam kondisi krisis makanan. Ancaman terbesar menimpa balita dan perempuan. Dari data PBB, setiap hari sebanyak 13 balita meninggal kelaparan dan dalam beberapa tahun terakhir sudah tercatat 29 ribuan balita meregang nyawa akibat tak  mendapatan asupan gizi yang cukup. 

Sementara itu, ratusan ribu penduduk Somalia telah tinggal di tenda tenda pengungsian ke negara tetangga seperti Kenya dan kini juga dalam ancaman kematian karena kelaparan.

Baca selengkapnya »
0 komentar

Aid For Somalia, PKPU Kirim Bantuan Pertama



Somalia saat ini sedang dilanda bencana kekeringan dan kelaparan telah menewaskan lebih dari 29.000 anak di bawah lima tahun. Sementara itu, ratusan ribu anak lainnya menderita kekurangan gizi akut dan terancam kehilangan nyawa.
Hal ini berdasarkan laporan pemerintah Amerika Serikat yang disampaikan oleh Nancy Lindborg, Juru Bicara Dana Bantuan AS, kepada Kongres. Dikutip dari CNN, Kamis, 4 Agustus 2011, Lindborg mengatakan 29.000 balita tersebut tewas dalam kurun waktu 90 hari di Somalia bagian selatan.
Angka ini didasarkan pada survey nutrisi dan kematian di Somalia yang telah diverifikasi oleh Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular AS. Laporan yang dikeluarkan AS ini adalah laporan pertama yang menyebutkan angka pasti jumlah anak tewas akibat kelaparan terparah di Somalia selama 60 tahun terakhir.
 Dalam rangka memperkuat program kemanusiaan PKPU di Somalia, Tomy Hendrajati selaku Direktur Program PKPU, melakukan komunikasi langsung dengan Deputy President  IHH, Huseyin Oruc, untuk mendiskusikan program-program kemanusiaan yang akan dilakukan bersama di Somalia, Selasa (16/8/2011).

Tomy mengatakan bahwa bantuan makanan dan pelayanan kesehatan merupakan program yang saat ini diperlukan oleh para pengungsi di Somalia. Huseyin Oruc menyambut baik PKPU, dengan melakukan kerja sama program membantu masyarakat Somalia yang sedang dilanda bencana kekeringan hebat.

Huseyin Oruc menambahkan, sehari yang lalu sebuah kapal membawa 3000 ton bahan makanan dan obat- obatan berangkat dari Istambul menuju Somalia. Sepekan kemudian, kapal berikutnya pun menyusul untuk membawa bantuan.

Mengenai situasi keamanan di Mogadishu, Ibu Kota Somalia, Huseyin Oruc menjelaskan jika keamanannya kurang kondusif dan tidak dapat diprediksikan keadaannya. Namun para relawan IHH yang mendistribusikan bantuan tidak mengalami kendala yang berarti. Untuk informasi, kontak Tomy Hendrajati, Direktur Program PKPU di 021-87780015, 08041002000 (pulsa lokal), email: mastom@pkpu.or.id.  
sumber : dakwatuna.com,pkpu.or.id



Baca selengkapnya »
0 komentar

Ketegaran 20 Siswa SD Maulumbi



Berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki merupakan sesuatu yang sudah lumrah. Namun, sekitar 20 siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) Maulumbi, Kecamatan Kanbera, Kabupaten Sumba Timur, setiap pagi harus berenang mengarungi aliran sungai yang deras untuk bisa mencapai sekolahnya.

Mereka harus telanjang saat berenang agar pakaian seragam dan bukunya tidak basah. Mereka harus bertarung melawan bahaya ancamana bintang buas seperti buaya yang sewaktu-waktu bisa muncul.

Disaksikan Pos-Kupang.Com, Senin (30/5/2011) pagi, sekitar 20-an siswa SDI Maulumbi, Kecamatan Kanbera, Kabupaten Sumba Timur berenang melintasi aliran sungai yang cukup deras untuk menuju ke sekolah. Saat tiba di tepi Sungai Maulumbi, baik laki-laki maupun perempuan harus meanggalkan pakain mereka. Hal ini bertujuan agar pakian dan perlengkapan sekolah mereka tidak basah. Selanjutnya, pakain seragam, sepatu dan buku pelajaran disimpan dalam tas sekolah dan terjun ke dalam sungai.

Kurang lebih sepuluh menit, anak-anak usia tujuh hingga 15 tahun ini berada di dalam aliran sungai. Selain itu, mereka juga harus berenang ketika berada di tengah sungai yang cukup dalam. Setelah tiba diseberang sungai, anak-anak tersebut baru mengenakan kembali pakain masing-masing untuk melanjutkan perjalan ke sekolah.

Di Sungai Maulumbi, terlihat sejumlah orang tua para siswa ikut membantu menyeberangkan anak-anak mereka. Hal ini disebabkan, selain aliran sungai yang deras dan juga dalam, di lokasi tersebut juga merupakan daerah yang sering dilalui buaya muara.

"Setiap pagi saya datang antar anak saya sampai ke sebrang sungai baru saya pulang, siang juga datang jempu karena takut ada buaya di sini," demikian Ny. Erlin Konda Nguna (23) salah seorang orang tua para anak-anak tersebut.

Dia menjelaskan, biasanya kalau musim hujan dan terjadi banjir besar maka anak-anak dari Kampung Pa'da Karamba, Kecamatan Kanbera tidak bisa pergi ke sekolah. Hal ini disebabkan, para orang tua dan juga siswa tidak bisa menyebrangi sungai tersebut.

"Memang ada satu sampan di sini, tapi hanya bisa muat empat orang," jelasnya.

Laporan wartawan Pos Kupang, John Taena
Baca selengkapnya »
0 komentar

Informasi Terkini Bencana Kawah Timbang Batur Banjarnegara

 Barak Pengungsi di Balai Desa Batur

PURWOKERTO - Rabu pagi (8/6/2011), Tim Rescue PKPU kembali memberangkatkan tim keempat ke lokasi bencana Kawah Timbang di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara. Tim yang diberangkatkan langsung dari Purwokerto dan beranggotakan 5 orang tersebut dipimpin langsung oleh Indra Budi Legowo.

Untuk 3 hari kedepan, PKPU akan melaksanakan beberapa kegiatan antar lain trauma healing bersama badut PKPU, pemutaran film edukasi, pembuatan taman bacaan, dan pembuatan posko dapur air di lokasi pengungsian.

“Kami bisa memahami bila para pengungsi sudah merasa bosan tinggal cukup lama di lokasi pengungsian. Karena itu, kami sengaja memilih kegiatan yang ringan tapi dibutuhkan untuk menghibur pengungsi sekaligus menghilangkan rasa bosan mereka,” kata Indra begitu tiba di lokasi pengungsian pukul 11.00 WIB. Hari ini, lanjut Indra, PKPU membawa beberapa dus berisi buku bacaan dan logistik berupa persediaan untuk sarana dapur air di lokasi pengungsian.

Saat berita ini ditulis, status Kawah Timbang masih siaga. Setelah sehari sebelumnya sempat mengalami peningkatan, aktifitas kawah mulai mengalami penurunan. Konsentrasi CO2 juga mengalami penurunan hingga pada angka 1,07 %.

Saat bertemu dengan warga di Diusun Simbar, didapat informasi bahwa sudah dua hari ini asap putih yang keluar dari Kawah Timbang sudah tidak terlihat.Walaupun demikian, Pihak PVMBG belum menurunkan status kawah timbang.

Sementara di posko pengungsian, kondisi pengungsi masih terlihat lelah. Raut bosan amat sangat terlihat di wajah setiap pengungsi. Kondisi fisik yang mulai melemah pun membuat banyak diantara mereka yang memeriksakan kesehatannya di posko layanan kesehatan. 

Sesuai rencana, Tim PKPU akan dibagi 2 group. Group pertama sebanyak 2 orang akan ditugaskan untuk diperbantukan sebagai tenaga medis, dan 2 orang lagi untuk Trauma Healing dan Pemutaran Film. Tim PKPU di lapangan akan terus mengupdate informasi kepada masyarakat terkait kondisi yang terjadi di Gunung Dieng. (PKPU/Priambodo/Purwokerto)

Baca selengkapnya »
0 komentar

OPTIMALISASI MANAJEMEN BENCANA



Bagi manusia, bencana sesungguhnya bukan hal baru dalam perjalanan perkembangan kehidupannya.  Lewat bencana yang terjadi berkali-kali dalam sejarah manusia, akhirnya manusia secara terus-menerus melakukan inovasi untuk bisa terhindar dari bencana. Walaupun demikian, bencana tetap saja bencana, ia memiliki karakter khas berupa sulitnya diprediksi dan dikendalikan dampaknya bagi kehidupan manusia. Dalam  bencana alam yang bersifat terbatas dan lokal, manusia sedikit banyak mampu meminimalisir dampak serta kerugiannya, namun ada lebih banyak lagi bencana alam yang ternyata manusia tidak sanggup untuk memprediksi dan menghindar dari terjadinya bencana tersebut. Yang bisa dilakukan ketika bencana alam telah terjadi bagi manusia adalah bagaimana mengelola kondisi pasca bencana. Upaya atau pengelolaan ini meliputi pengelolaan korban yang selamat, barang yang masih tersisa serta hal-hal lain yang menjadi daya dukung pemulihan pasca bencana.

Tulisan di bawah ini sedikit banyak mengulas bagaimana sebenarnya potensii bencana alam di Indonesia, kiprah NGO (Non Govermental Organization) atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam penanganan bencana serta upaya-upaya optimalisasi pengelolaan manajemen bencana   alam yang terjadi, khususnya yang bisa dilakukan oleh kalangan NGO atau LSM.

Indonesia dan Potensi Bencana
Indonesia, negeri indah di jamrud khatulistiwa bukan saja berlimpah sumber daya alam begitu banyak, ternyata negeri ini sekaligus memiliki potensi bencana yang tak terkira. Ada begitu banyak ragam bencana yang terjadi di negeri ini. Secara geografis dan alami, Indonesia juga merupakan suatu kawasan dunia yang berpotensi mengalami bencana alam besar terutama gempa bumi, tsunami, gunung meletus, semburan atau lelehan produk gunung api, longsoran dan tanah bergerak (land slip), badai, dan lain-lain.

Kejadian-kejadian tersebut tidak bisa dihindari karena kenyataanya letak wilayah kepulauan Nusantara secara geologis berada pada kawasan hiperaktif di antara pertemuan lempeng-lempeng (kerak bumi/samudra) besar dunia, yakni Lempeng Benua Asia yang bergerak ke arah selatan dan timur di bagian utara, Lempeng Samudra Hindia dan Australia sebelah selatan dan barat yang bergerak ke utara, serta Lempeng Samudra Pasifik di sebelah timur yang bergerak ke barat.

Disebabkan terdapatnya pertemuan antara lempeng-lempeng bumi tersebut, maka bencana alam merupakan suatu fenomena yang “wajar” terjadi, khususnya yang berupa gempa, letusan gunung berapi bahkan tsunami dalam berbagai skalanya.   Masyarakat  yang tersebar di pulau-pulau yang ada di Indonesia mau tidak mau memiliki peluang cukup besar untuk bersinggungan dengan bencana dalam tingkatan yang berbeda-beda situasinya, sesuai tempat tinggal serta karakter bencana yang ada di sekitarnya. Melihat kondisi tersebut, bukan saja tempat tinggal berupa kampung-kampung pemukiman, desa bahkan kota besar-pun idak bias lepas dari kemungkinan bencana. Penduduk di manapun tinggalnya, harus rela  hidup dan membangun kehidupan dalam intaian rawannya bencana alam. Hal ini akan lebih parah saat masyarakat ternyata tidak mampu mengenali daerah serta karakter bencana alam di lingkungan tempat tinggal mereka sehingga mereka tidak mempersiapkan diri sejak dini bagaimana cara untuk hidup berdampingan dan "aman" di kawasan semacam itu.

Kenyataan Indonesia sebagai “daerah bencana”  dapat kita cermati misalnya sepanjang tahun 2004-2006. Saat  belum lagi kering luka anak bangsa di Aceh dan Sumatera Utara akibat tsunami pada Desember 2004, tiba-tiba Nias dan Simeleu berduka akibat  gempa susulan yang tidak kalah dahsyat dengan tsunami pada Maret 2005. Pasca itu, bencana seakan susul-menyusul tidak kenal berhenti. Di awal tahun 2006, Indonesia kembali diguncang bencana dahsyat berupa terjadinya tanah longsor di kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. 

Setelah itu, dari waktu ke waktu terus terjadi berbagai bencana di beberapa daerah di Indonesia. Masing-masing bencana tersebut tentu saja mengakibatkan sejumlah kerugian yang tidak sedikit, baik pada harta benda maupun pada hilangnya jiwa akibat jadi korban bencana. Menghadapi berbagai bencana yang terjadi, tentu saja kita tidak bisa hanya menunggu  adanya bantuan yang datang dari Pemerintah. Sebagai wujud kepedulian, seyogyanya, siapapun dapat segera tanggap untuk membantu mereka yang tertimpa bencana.

saat bencana menerpa, tidak perlu kita menuding siapa yang salah dan siapa yang paling bertanggungjawab dalam hal itu. Cukuplah kita bantu segera para korban bencana yang terjadi tanpa melihat latar belakang serta perbedaan yang ada pada diri korban. Dan bagi mereka yang selama ini terlibat di lapangan, khususnya kalangan NGO atau LSM yang memiliki konsens pada respons dan pengelolaan pasca bencana mengutamakan menolong korban jauh lebih penting dari sekedar berwacana dari mana atau apa yang menyebabkan bencana terjadi. Jangan sampai terjadi kembali lkasus-kasus yang terjadi pasca bencana yang berupa lambannya pemerintah serta aparatt yang datang dan membantu para korban bencana.

Kiprah NGO (LSM) dalam Penanganan Bencana
Di dalam penanganan bencana alam, masalah kelambanan pengelolaan adalah masalah klasik. Ini terus terulang dalam berbagai tempat bencana yang terjadi. Dimana-mana yang dalam penanggulangan akibat bencana alam bisa karena masalah dana, juga bisa karena kinerja, dan yang lebih parah jika suatu Pemerintah Daerah tak pernah membentuk tim atau gugus tugas untuk melakukan menejemen bencana. Padahal kita tahu bahwa dengan melakukan menejemen bencana dengan baik, dengan melibatkan para pakar, ahli serta mereka yang memiliki pengalaman memadai insyallah akan bisa sedini mungkin diketahui atau diprediksi kawasan rawan bencana dan kemungkinan-kemungkinan lain. Dalam kaitan tersebut misalnya, para pakar hidrologi bisa memperkirakan suatu kawasan yang memungkinkan terjadinya luapan air, bisa mengetahui penyebab dan memberi solusi untuk mengatasi atau mereduksi dampak surplus air akibat tingginya curah hujan. Pakar pertanahan bisa meneliti dan mengetahui dampak curah hujan yang tinggi pada struktur tanah. Sehingga bisa memberi peta sebagai ‘warning’ kepada para warga dan pejabat mengenai kawasan yang rawan longsor. Sedangkan pakar bangunan dan pakar tata kota bisa memperkirakan daya tahan suatu bangunan, kondisi riol, struktur bangunan dan perkiraan daya tahannya. Walaupun begitu, terkadang ada sebagian bencana yang terjadi tanpa bisa diprediksi terlebih dahulu, misalnya tiba-tiba sebuah tempat yang mengalami longsor. Ini terjadi bisa saja karena curah hujan yang tiba-tiba sangat tinggi, karena pusaran angin yang membawa awan bisa tiba-tiba berubah arah dengan kecepatan yang tinggi.

Meski demikian, menejemen bencana yang memadai diperlukan guna mengantisipasi sejumlah hal yang tidak kita inginkan. Salah satu sarana atau hal yang harus tersedia dalam proses antisipasi bencana adalah ketersediaan dana. Masalah dana adalah masalah yang cukup vital, mengingat  setiap kali terjadi bencana selalu saja kita memerlukan akselerasi penanggulangan dan rehabilitasi kawasan yang setiap hari digunakan masyarakat, seperti jalan, jembatan dan sebagainya, termasuk rehabilitasi rumah warga yang menjadi korban. Akibat dari itu semua, maka soal bencana alam akhirnya menjadi bagian dari otonomi daerah, karena tak bisa berharap banyak dari bantuan pemerintah pusat.
Selama ini rakyat yang tertimpa bencana alam selalu berharap banyak pada pemerintah setempat, dan sangat jarang korban bencana alam menyebut-nyebut bantuan dari pemerintah pusat. Sehingga ketangguhan suatu pemerintah daerah yang saat ini dalam era otonomi daerah, juga diuji dari kemampuannya dalam menanggulangi bencana alam. 
Bencana alam yang tak bisa diprediksi adalah gempa bumi, sehingga menejemen bencana lebih terarah pada daya tahan atau mutu bangunan. Namun mengingat bencana di Nias, dan kondisi bangunan di Indonesia, maka hal yang terpenting dari menejemen bencana di era otonomi daerah adalah ketersediaan dana pemerintah daerah.

Dengan adanya menejemen bencana yang rapi, maka soal penanggulangan akibat bencana alam tak lagi menempuh langkah improvisasi dalam masalah dana. Seperti diketahui, saat terjadi bencana alam, langkah pertama adalah penampungan sementara bagi para korban dan untuk ini diperlukan dana bagi pangan dan obat-obatan. Setelah itu upaya rehabilitasi yang memerlukan dana lebih besar.

Manajemen Kebencanaan
Pengelolaan kebencanaan dapat dibagi ke dalam 3 kelompok aktivitas, yaitu : pra bencana, (saat) bencana, dan pasca bencana.

Pra bencana: Pada masa pra bencana atau disebut juga sebagai fase penyadaran akan bencana, jajaran pers dapat memainkan perannya selaku pendidik publik lewat artikel ataupun berita yang disajikannya secara priodik, terencana, populer, digemari dan mencerahkan serta memperkaya khazanah alam pikiran publik dengan target antara lain : (1) peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang bencana, mekanisme quick respon, langkah-langkah resque yang perlu, cepat dan tepat untuk meminimalisasi korban serta menekan kerugian harta/benda, (2) pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui muatan-muatan artikel tematis yang bersifat penumbuhan kesadaran masyarakat terhadap potensi, jenis dan sifat bencana), (3) perencanaan pengembangan wilayah dan pertumbuhan tata-ruang; (4) pelestarian lingkungan.

Saat Bencana: Ketika bencana, disebut juga aktivitas emerjensi dan resque. Dalam periode ini dunia jurnalistik lebih menonjolkan penyajikan berita dan informasi yang bersifat menyejukkan hati para korban, mengurangi dampak susulan, menumbuhkan optimisme, di samping pengumuman-pengumuman identitas korban baik yang meninggal maupun yang mengungsi, alamat-alamat posko bantuan, lokasi puskesmas, poliklinik dan rumah sakit, lokasi pengungsian, serta melakukan peran kontrol terhadap kiprah para pelaku dan pemberi pertolongan yang kerap mengedepankan aktivitas kemanusian dan rasa kepedulian, dibalik keinginannya untuk mempromosikan diri ataupun organisasi. Hal tersebut di samping untuk memudahkan dan memperlancar sang korban sesegera mungkin memperoleh kebutuhan dasarnya, juga memberikan informasi bagi para relawan yang hendak membantu dalam penyediaan berbagai kebutuhan primer korban, seperti : (1) sandang dan pangan; (2) sarana berlindung, rumah/barak penampungan, kemah, payung, jas hujan, jaket/baju tebal, selimut, dsb; (3) sarana kesehatan diri (obat-obatan dan kebutuhan darah) dan kesehatan lingkungan (air bersih dan MCK di tempat pengungsian); (4) peralatan ibadah, sekolah dan olah raga; (5) perlengkapan/peralatan ibu-ibu hamil, bayi dan jompo; dll.

Laporan-laporan yang mendalam hasil investigasi langsung dari lokasi bencana memberikan muatan news value yang cukup signifikan, eksklusif, dan berbobot. Berita-berita seputar drama kemanusiaan yang sangat humanistik dalam proses pencarian, penemuan dan perjumpaan kembali dengan sahabat, kerabat dan famili yang hilang saat bencana merupakan potret utuh refleksi egalitarianisme serta keikhlasan manusia tanpa diembel-embeli oleh nilai-nilai materialisme, dan atribut-atribut sosial yang dalam kondisi normal mempunyai posisi tawar tertentu. Hal semacam ini tentunya sangat layak di tampilkan dalam rangka peneguhan aktualisasi diri pers di tengah masyarakat.

Pasca Bencana: Dalam keadaan pasca-bencana yang disebut juga sebagai periode recovery dan rehabilitasi, kegiatan-kegiatan pers dapat difokuskan dalam bentuk laporan-laporan secara luas dan mendalam, tentang konsep dan strategi pembangunan kembali infrastruktur, terutama fasilitas sosial dan fasilitas umum yang hancur/rusak akibat bencana, antara lain : (1) pembangunan kembali jalan, sekolah, rumah ibadah, saluran irigasi, dsb; (2) pembangunan sarana kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan; (3) pemberdayaan korban bencana; (4) bantuan pelayanan rehabilitasi mental dan cacat; (5) fasilitator proses repatriasi serta relokasi dan pemulangan kembali para korban, (6) pemberdayaan ekonomi dan sosial kebudayaan korban dan lain-lain.

Pak Nana
GM Marketing & Internal Affairs
PKPU-Lembaga Kemanusiaan Nasional
Baca selengkapnya »

Sahabat

Artikel Terbaru

Arsip Blog